- Masa Awal di Masjid Nabawi
Pada masa-masa awal di Masjid Nabawi, belum ada mimbar yang megah. Saat itu, Rasulullah ﷺ biasa berkhutbah sambil bersandar pada sebuah batang pohon kurma tua (Al-Jidz’u) yang tertancap di dekat mihrab.
Bertahun-tahun, batang kayu itulah yang “menopang” punggung manusia termulia. Ia menjadi saksi bisu setiap wahyu yang disampaikan Nabi ﷺ.
- Suara Tangisan yang Memilukan
Suatu ketika, suasana hening dan Nabi ﷺ memulai khutbahnya. Namun tiba-tiba, terdengar suara aneh dari arah belakang Nabi ﷺ. Awalnya pelan, seperti suara rintihan (Anin). Tapi lama-kelamaan, suara itu makin kencang dan makin menyayat.
Itu bukan suara manusia. Itu adalah suara tangisan dari batang kurma yang ditinggalkan. Para sahabat yang hadir terperanjat. Anas bin Malik menceritakan bahwa masjid sampai bergetar karena hebatnya tangisan kayu itu.
Suaranya dideskripsikan seperti lenguhan unta hamil sepuluh bulan yang kehilangan anaknya. Histeris, pilu, dan patah hati. Kayu mati itu menangis karena tidak lagi merasakan hangatnya sandaran tubuh Rasulullah ﷺ.
- Kasih Sayang Sang Nabi ﷺ
Bayangkan, benda yang kita anggap mati ternyata punya “perasaan” sehalus itu. Ia merindu zikir dan wahyu yang biasa ia dengar dari jarak dekat.
Melihat “drama” itu, Rasulullah ﷺ tidak diam saja. Beliau tidak menganggapnya sebagai gangguan. Rasulullah ﷺ menghentikan khutbahnya. Beliau turun dari mimbar, berjalan mendekati batang kurma yang sedang “sesenggukan” itu.
Lalu, tangan mulia Nabi ﷺ mendekap batang kayu tersebut. Beliau memeluknya erat, seperti seorang ibu yang menenangkan bayinya yang sedang tantrum. Beliau mengusap-usap batang kasar itu dengan penuh kasih sayang.
- Sebuah Pilihan Abadi
Perlahan, suara tangisan itu mereda. Kayu itu mulai tenang dalam pelukan Nabi ﷺ hingga akhirnya diam sepenuhnya. Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat:
“Seandainya aku tidak memeluknya, niscaya ia akan terus menangis seperti itu hingga hari kiamat karena kerinduannya.”
Kemudian Nabi ﷺ memberikan pilihan kepada batang kayu itu (dan kayu itu mengerti): dikembalikan menjadi pohon subur di dunia atau ditanam di surga, meminum air sungai surga, dan buahnya dimakan para wali Allah.
Apa jawaban si kayu? Dia memilih surga. Dia memilih keabadian bersama Rasulullah ﷺ nanti, daripada hidup subur di dunia tapi fana. Nabi pun memerintahkan agar batang itu dikubur di bawah mimbarnya. Ia dimuliakan layaknya jenazah manusia.
- Pelajaran bagi Kita
Kisah ini pernah membuat ulama besar Hasan Al-Basri menangis setiap kali menceritakannya. Beliau berkata:
“Wahai manusia, sebatang kayu saja merindukan Rasulullah ﷺ sampai seperti ini. Maka kalian seharusnya lebih berhak untuk merindukan beliau.”
Kita punya akal, kita punya hati. Tapi seberapa sering mata ini basah karena rindu pada Nabi ﷺ?
Jangan sampai hati kita lebih keras dari kayu kering. Kayu itu tahu siapa Rasulullah ﷺ. Masa kita yang berharap syafaatnya justru lupa padanya? Semoga hati kita dilembutkan oleh Allah agar bisa mencintai Nabi ﷺ seperti kayu itu mencintainya.
Sumber Referensi :
- Shahih Bukhari: Kitab Al-Manaqib (Hadis No. 3584)
- Sunan An-Nasa’i: Kitab Al-Jumu’ah (Hadis No. 1396)
- Musnad Ahmad bin Hanbal: Riwayat Jabir bin Abdullah (Hadis No. 14141)
- Al-Basri, Hasan. (n.d.). Nasihat dan Kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. (Sebagaimana dikutip dalam kitab-kitab Syamail dan Mauizhah).
- Kisah Kerinduan Batang Kurma (Al-Jidzu). Diambil dari materi visual edukasi sejarah Islam.
Oleh : Endang Mu’min



Komentar