Hikmah
Beranda » Berita » Kisah Julaybib: Wajah yang Terasing, Jiwa yang Dicintai Langit

Kisah Julaybib: Wajah yang Terasing, Jiwa yang Dicintai Langit

(Wajahnya Membuat Orang Memalingkan Muka, Tetapi Kematiannya Membuat Bidadari Surga Berebut)

Namanya adalah Julaybib Radhiyallahu ‘Anhu. Di Madinah, ia bukanlah siapa-siapa. Fisiknya pendek, kulitnya hitam, dan wajahnya (mohon maaf) dianggap sangat tidak menarik oleh standar manusia saat itu. Ia tidak memiliki harta maupun nasab (keluarga) yang kuat. Julaybib sering menghabiskan waktu sendirian karena tidak banyak orang yang mau duduk berlama-lama dengannya.

Bayangkan rasanya menjadi Julaybib. Setiap kali ia lewat, orang-orang mungkin berbisik atau membuang muka. Rasa sepi itu pasti mencekik. Namun, ada satu orang yang tidak pernah memalingkan wajah darinya. Satu orang yang selalu menatapnya dengan cinta dan senyum hangat. Beliau adalah Rasulullah Shallallahu ‘Ala ihi Wa Sallam.

Lamaran Sang Nabi

Suatu hari, Rasulullah bertanya, “Wahai Julaybib, tidakkah engkau ingin menikah?”

KUA Bantarujeg Gelar Mini Camp: Perkuat Karakter Remaja Demi Fondasi Keluarga Sakinah

Julaybib tersenyum getir dan menjawab, “Siapakah yang mau menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah? Aku ini tidak laku.”

Tiga kali Nabi bertanya, tiga kali pula Julaybib menjawab dengan kerendahan dirinya. Hingga akhirnya, Nabi sendiri yang melamarkan seorang gadis Ansar untuknya. Rasulullah mendatangi rumah salah satu pemuka Ansar dan bersabda, “Aku ingin melamar putrimu.”

Ayah gadis itu sangat girang dan menjawab, “Tentu, ini kehormatan besar!” “Bukan untukku, tetapi untuk Julaybib,” kata Nabi.

Seketika wajah sang ayah berubah. Ibunya pun menolak keras, “Julaybib? Demi Allah, tidak! Kami sudah menolak pelamar yang lebih kaya darinya!”

Mendengar perdebatan itu, sang gadis keluar dari kamarnya. Dia berkata dengan tegas:
“Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah? Demi Allah, Nabi tidak akan mencelakakanku. Nikahkan aku dengannya!”

Penyuluh Agama KUA Malausma: Puasa Adalah Perisai dan Pengendali Produktivitas ASN

Gadis salehah itu melihat apa yang tidak dilihat orang tuanya. Dia tidak melihat wajah Julaybib, melainkan melihat rekomendasi dari sang Nabi.

Panggilan Jihad di Malam Pertama

Pernikahan pun terjadi, tetapi takdir berkata lain. Belum sempat mereka menikmati manisnya malam pertama, seruan jihad berkumandang: “Yaa Khailallah irkabi!” (Wahai pasukan Allah, naiklah ke kuda kalian!).

Julaybib dihadapkan pada pilihan sulit: istri cantik yang baru dinikahinya atau panggilan Allah? Tanpa ragu, ia memilih berangkat ke medan perang.

Setelah pertempuran usai, Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menyebutkan nama-nama keluarga mereka yang gugur. Namun, Rasulullah berkata dengan suara bergetar: “Tetapi aku kehilangan Julaybib! Carilah dia!”

Estafet Kepemimpinan MAN 2 Majalengka: Yayan Ristaman Jaya Serahkan Jabatan kepada H. Dodo Sunandi

Nabi mencarinya sendiri di antara tumpukan jenazah. Dan akhirnya, beliau menemukannya.

Syahid yang Mulia

Julaybib terbaring penuh luka. Di sekelilingnya ada tujuh mayat musuh yang berhasil ia bunuh sebelum ia sendiri syahid. Rasulullah berdiri di samping jasad sahabatnya yang pernah dianggap “buruk rupa” itu.
Mata beliau berkaca-kaca. Beliau menatap wajah yang dulu sering dihina orang itu dengan penuh kebanggaan. Lalu, keluarlah kalimat yang menggetarkan langit dari lisan Nabi:

“Dia membunuh tujuh orang, lalu mereka membunuhnya. Dia bagian dariku, dan aku bagian darinya. Dia bagian dariku, dan aku bagian darinya.”

Nabi mengulanginya dua kali sebagai bentuk pengakuan total bagi jiwa yang di dunia terasingkan, namun di langit begitu dimuliakan.

Penghormatan Terakhir dari Sang Kekasih Allah

Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membopong sendiri jenazah Julaybib dengan kedua tangan beliau. Tidak ada keranda, tidak pula ada kain sutra yang menyertainya. Kasur terakhir bagi Julaybib adalah lengan Rasulullah. Ia diantar menuju liang lahat dalam dekapan manusia yang paling mulia di muka bumi.


Pesan Moral: Nilai Sejati di Mata Sang Pencipta
Sahabat Religi, dunia mungkin akan menilaimu hanya dari seberapa menawan wajahmu atau seberapa tebal dompetmu. Namun, kisah Julaybib ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua:

Di mata Allah, menjadi “Good Looking” (berwajah menarik) itu tidak ada harganya jika dibandingkan dengan memiliki “Good Heart” (hati yang baik). Kesalehan dan ketaatan adalah standar kemuliaan yang sesungguhnya.


Sumber Referensi :

  1. Shahih Muslim (Hadis No. 2472)
  2. Musnad Ahmad (Hadis No. 12457)
  3. Tafsir Ibnu Katsir & Al-Qurthubi; Asbabun Nuzul (QS 33:36)
  4. Usud al-Ghabah (Ibnu al-Atsir)

Oleh : Endang Mu’min

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

🌙 Menuju Idul Fitri 1447 H

0
Hari
0
Jam
0
Menit
0
Detik

Playlist Video Kemenag Majalengka