Majalengka (KEMENAG)– Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka mengikuti kegiatan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) Ramadan yang rutin dilaksanakan di Masjid Al-Ikhlas, Kompleks Kantor Kemenag Majalengka, Rabu (25/2/2026).
Kegiatan pembinaan mental dan rohani ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka, Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd., didampingi Kasubag TU, Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag., serta jajaran Kepala Seksi dan Penyelenggara Zakat Wakaf.
Pada kesempatan tersebut, menghadirkan penceramah Ahmad Satori, S.Sos., yang merupakan Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Jatitujuh. Dengan gaya penyampaian yang khas menggunakan dialek lokal “Pasindangan” Jatitujuh yang lugas, Kiai Ahmad Satori berhasil menghidupkan suasana tausiyah di hadapan para jamaah.
Dalam tausiyahnya, Ahmad Satori menekankan bahwa Ramadan adalah Syahrun Mubarak atau bulan yang penuh keberkahan. Menurutnya, keberkahan itu tidak hanya bersifat ukhrawi, tetapi sudah tampak secara nyata di dunia melalui meningkatnya tali silaturahmi dan kepedulian antarsesama.
“Bukti keberkahan Ramadan itu nyata. Saudara yang jarang berkunjung jadi datang membawa hantaran. Anak-anak di perantauan pun rela pulang demi menengok orang tua. Bahkan, tidurnya orang berpuasa pun bernilai ibadah,” ujarnya mengawali materi.
Ia juga mengisahkan sejarah puasa Nabi Adam AS sebagai asal-usul puasa Ayyamul Bidh (hari-hari putih). Dikisahkan bahwa melalui puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriah, wajah Nabi Adam yang semula kusam akibat pengaruh suasana dunia kembali menjadi bersih dan bercahaya.
Lebih lanjut, Ahmad Satori memberikan analogi menarik mengenai pengendalian hawa nafsu. Ia menegaskan bahwa musuh utama di bulan Ramadan bukanlah setan yang dibelenggu, melainkan nafsu dalam diri sendiri.
“Iman dan nafsu tidak akan pernah bersatu. Saat iman memimpin, kita menginginkan segala sesuatu yang utuh dan baik. Namun saat nafsu yang menang, hal yang kita jaga dengan susah payah pun bisa kita hancurkan sendiri. Maka, puasa adalah sarana utama untuk mengendalikan nafsu tersebut demi mencapai derajat takwa,” jelasnya.
Kegiatan tidak berhenti pada Kultum saja. Sebagai bagian dari upaya meningkatkan amaliah di bulan suci, acara dilanjutkan dengan Tadarus Al-Qur’an massal oleh seluruh pegawai Kemenag Majalengka.
Sistem tadarus dilakukan dengan membagi seluruh ASN ke dalam 10 kelompok kerja. Dengan pembagian ini, Kemenag Majalengka menargetkan pencapaian yang ambisius namun terukur, yakni satu kali khatam Al-Qur’an dalam setiap 3 harinya selama bulan Ramadan.
Melalui perpaduan antara siraman rohani dan tadarus bersama, diharapkan integritas dan spiritualitas pegawai Kemenag Majalengka semakin meningkat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.



Komentar