Majalengka (Humas Kemenag Majalengka) – Kajian rutin Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah Rahimahullah kembali digelar selepas Apel Pagi di lingkungan Kantor Kementerian Agama
(Kemenag) Kabupaten Majalengka. Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Majalengka, pada Senin (23/11/2025) ini dipimpin oleh KH. Abu Mansyur, S.Ag., M.Pd.I., Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU).
Kajian ini dihadiri oleh Kasubag TU Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag., serta jajaran Kepala Seksi, Pengawas Madrasah, dan Pengawas PAI. Pembahasan kali ini berfokus pada Hikmah ke-150, yang mengajak jamaah untuk merenungi segala ketetapan Allah SWT, termasuk dalam fenomena alam sehari-hari.
Dalam pemaparannya, KH. Abu Mansyur mengulas Hikmah ke-150 yang berbunyi: “Mungkin saja Allah Subhanahu wa ta’ala memberikanmu faedah (manfaat) saat malam tertutup atau gelap, apa yang engkau tidak dapatkan pada terang benderangnya siang (kenikmatan).”
Ia menjelaskan bahwa Allah telah berfirman, “Lā tadrūna ayyuhum aqrabu lakum naf’an” (Kalian tidak tahu siapa yang paling dekat memberikan manfaat kepadamu). Hal ini menjadi landasan bahwa kesulitan dan kesenangan tidak selalu dimaknai secara lahiriah.
“Malam yang gelap bukan berarti adalah kesulitan, dan siang yang terang benderang belum tentu menjadi kebahagiaan,” jelasnya. “Kadang dengan gelapnya malam, kita mendapatkan istirahat yang nyaman dan panjang, tetapi dengan terang benderangnya siang, mungkin menjadikan kita capek. Jika sedang ada kesusahan, bisa jadi
itu adalah bagian dari kebahagiaan.”
Abu Mansyur kemudian mengajak hadirin untuk merenungi kebiasaan berdoa saat hujan, yang merupakan salah satu waktu sa’atul mustajabah (saat diijabahinya doa).
Ia menyoroti doa yang sering dipanjatkan: “Allāhumma ṣayyiban nāfi‘ā” (Ya Allah, semoga hujan ini bermanfaat).
“Hujan itu sudah rahmat, yang Allah kerjakan itu sudah pasti bermanfaat, kenapa kita masih berdoa: Ya Allah, jadikan hujan ini bermanfaat?” tanyanya retoris.
Menurut beliau, fokusnya bukan pada kesalahan doa, melainkan pada sejauh mana keyakinan kita bahwa hujan tersebut betul-betul menjadikan kita lebih dekat kepada Allah. Ia menegaskan agar umat Muslim ber-husnudzan (berprasangka baik) terhadap setiap ketetapan Allah, termasuk hujan, dan mengingatkan agar jangan sampai kufur hanya karena mengeluhkan hujan.
Mengaitkan Hikmah 150 dengan konteks doa, Abu mengutip ayat Al-Qur’an:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,…” (Qs. Al-Baqarah 186)
“Ijabahnya doa itu ketika yakin bahwa kita dekat dengan Allah,” tegasnya. Keyakinan akan kedekatan (fa inni qarib) menjadi kunci utama dikabulkannya permohonan, sebagaimana sering dialami oleh mereka yang menunaikan ibadah haji atau umrah di Tanah Suci.
Kajian ditutup dengan harapan agar para jamaah selalu meyakini adanya kebaikan dan manfaat di balik setiap peristiwa dan kondisi yang ditetapkan Allah SWT.
Kontributor : Endang Mu’min



Komentar