Cigasong (KEMENAG) – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka, Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd., menghadiri prosesi adat “Ngaruwat Jagat, Ngajaga Alam, Cai Kahuripan Sangraja” yang digelar di Situ Sangraja, Kelurahan Cigasong, Jumat (13/2/2026). Kehadiran Kepala Kantor menegaskan dukungan Kemenag terhadap pelestarian tradisi lokal yang sarat akan makna syukur dan pelestarian ekosistem.
Acara yang berlangsung khidmat ini juga dihadiri langsung oleh Bupati Majalengka, Drs. H. Eman Suherman, M.M., beserta jajaran Forkopimda, Kepala OPD, Camat, Lurah, dan para tokoh adat.
Di sela-sela kegiatan, H. Agus Sutisna menyampaikan pernyataan sikapnya terkait esensi kegiatan tersebut. Ia memandang tradisi Ngaruwat Jagat bukan sekadar ritual budaya, melainkan bentuk nyata dari manifestasi nilai-nilai religius dalam menjaga alam (hifzhul ‘alam).
“Kehadiran kami di sini adalah bentuk apresiasi terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur Majalengka. Dalam pandangan kami, menjaga sumber mata air seperti di Sangraja ini adalah bagian dari ibadah, karena air adalah sumber kehidupan (cai kahuripan) yang dianugerahkan Allah untuk kita jaga keberlangsungannya,” ujar Agus.
Ia juga menyampaikan pesan khusus agar masyarakat tetap menjaga niat dalam setiap prosesi adat sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta.
“Harapan kami, kegiatan ini mampu mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan kesadaran kolektif. Jangan sampai sumber air ini rusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Mari kita wariskan alam yang sehat untuk anak cucu kita ke depan,” imbuhnya.
Sebelumnya, Tokoh Adat Sangraja, Dani Sonjaya Prawiranegara, dalam sambutannya memaparkan nilai historis lokasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa momen tahun 2026 ini bertepatan dengan 100 tahun (satu abad) sejak renovasi besar yang dilakukan oleh Bupati ketujuh, Suria Kartadjubrata, pada tahun 1927.
“Hari ini kita kembali menapak balas sejarah. Sangraja bukan hanya kolam renang pertama di Majalengka, tetapi jantung kehidupan bagi persawahan dan kebutuhan air bersih masyarakat Cigasong. Melalui prosesi Kawin Cai dan Ngikis, kita menyatukan kembali visi gotong royong warga,” tutur Dani.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Majalengka H. Eman Suherman, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Majalengka berkomitmen penuh untuk merevitalisasi Situ Sangraja sebagai Aset Daerah yang bermanfaat nyata bagi rakyat.
“Sangraja adalah Tamansari—tempat peristirahatan para leluhur yang memiliki nilai historis tinggi. Kami ingin menghidupkan kembali kenangan manis tempat ini melalui revitalisasi agar menjadi Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) unggulan yang mampu mendongkrak ekonomi masyarakat,” tegas Eman.
Bupati juga mengapresiasi sinkronisasi budaya Ngikis (bersih-bersih kolam menjelang Ramadan) dengan program pemerintah GEBER (Gerakan Bersih-Bersih dan Berkah). Ia mengajak seluruh elemen, termasuk Kemenag dan tokoh agama, untuk terus bersinergi menjaga keseimbangan alam sesuai filosofi: “Jika kita mencintai alam, maka alam akan mencintai kita.”
Acara ditutup dengan prosesi ritual Kawin Cai yang disaksikan oleh seluruh tamu undangan sebagai simbol penyatuan komitmen untuk menjaga kelestarian air dan budaya di Kabupaten Majalengka menuju “Majalengka Langkung Sae”.
Kontributor : Endang Mu’min



Komentar