Oleh : Endang Mu’min*
Pernahkah terlintas di benak kita bahwa makhluk yang sering kali menjadi tokoh utama dalam cerita-cerita horor dan sangat kita takuti, ternyata memiliki momen di mana mereka jauh lebih peka dan pandai bersyukur daripada manusia?
Mari kita kembali ke masa 1400 tahun yang lalu, sebuah malam yang sunyi di Lembah Nakhlah. Rasulullah ﷺ berdiri sendirian di kegelapan malam, melaksanakan shalat Subuh tanpa ada satu pun sahabat di sisinya. Dalam kesendirian itu, beliau membaca sebuah surah yang agung, sebuah surah yang dimulai dengan nama Allah yang Maha Pengasih: Surah Ar-Rahman.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya meriwayatkan peristiwa bersejarah ini:
صَحَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ يُصَلِّي الصُّبْحَ بِنَخْلَةَ، فَقَرَأَ سُورَةَ الرَّحْمَنِ وَمَرَّ النَّفَرُ مِنَ الْجِنِّ فَآمَنُوا بِهِ
“Telah sahih bahwa Nabi ﷺ berdiri menunaikan shalat Subuh di Nakhlah, lalu beliau membaca Surah Ar-Rahman. Kemudian lewatlah sekelompok jin, maka mereka pun beriman kepada beliau.” (Tafsir Al-Qurthubi, 17/153).
Dari kegelapan malam, mereka datang. Makhluk tak kasatmata yang kerap dianggap musuh manusia. Namun malam itu, mereka datang bukan untuk mengganggu, melainkan untuk mendengarkan, meresapi, dan tunduk beriman kepada Al-Qur’an.
Teguran untuk Manusia: Ketika Jin Lebih Responsif
Suatu hari, Rasulullah ﷺ membacakan Surah Ar-Rahman di hadapan para sahabatnya. Sepanjang pembacaan surah tersebut, para sahabat mendengarkan dengan penuh khidmat, hening, dan diam tanpa kata. Melihat respons tersebut, Rasulullah ﷺ justru bersabda:
لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ
“Sungguh, aku telah membacakannya kepada malam jin (ketika jin berkumpul), dan mereka jauh lebih baik responsnya daripada kalian.” (HR. Tirmidzi, no. 3291. Hadits ini dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani).
Mengapa Rasulullah ﷺ menyebut respons jin lebih baik? Apa yang sebenarnya diucapkan oleh para jin tersebut?
Setiap kali Rasulullah ﷺ sampai pada ayat:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)
Makhluk jin itu langsung menyahut dengan penuh ketundukan:
لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ ، فَلَكَ الْحَمْدُ
“Tidak ada satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Maka bagi-Mu segala puji.” (HR. Tirmidzi, no. 3291).
Sungguh sebuah tamparan spiritual bagi kita. Jin—yang diciptakan dari cobaran api yang menyala (maarijin min naar), yang secara natur memiliki sifat bergejolak dan sulit dikendalikan—malam itu hatinya begitu jujur. Ketika diingatkan tentang nikmat Allah, mereka langsung mengakuinya seketika.
Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya, At-Tahrir wat-Tanwir, menjelaskan makna mendalam di balik kata Tukadzdziban (تُكَذِّبَانِ). Menurut beliau, kata ini bukan sekadar berarti “mendustakan” dengan lisan, melainkan sebuah penolakan untuk mengakui. Nikmat itu ada, nyata, dan sedang kita rasakan, namun kita memilih untuk menutup mata dan pura-pura tidak melihatnya.
Alasan Di balik 31 Kali Pengulangan
Dalam Surah Ar-Rahman, ayat “Fabi ayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban” diulang sebanyak 31 kali. Mengapa Allah mengulangnya berkali-kali? Apakah karena Allah mengira kita tidak mendengar? Tentu tidak.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan esensi dari pengulangan ini:
الْنِّعَمُ ظَاهِرَةٌ عَلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ مُغْمَرُونَ بِهَا، لَا تَسْتَطِيعُونَ إِنْكَارَهَا وَلَا جُحُودَهَا
“Nikmat-nikmat itu nyata pada diri kalian, dan kalian tenggelam di dalamnya. Kalian tidak akan mampu mengingkarinya dan tidak pula mampu menolaknya.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/491).
Allah mengulang ayat ini sebanyak 31 kali karena Dia Maha Tahu betapa manusia adalah makhluk yang sangat mudah lupa (pelupa). Setiap pengulangan adalah ketukan lembut di pintu hati kita yang sering kali terkunci oleh keduniawian. Pengulangan itu seolah berbisik, “Kamu masih bernapas, kamu masih hidup hari ini, lalu mengapa kamu masih enggan bersyukur?”
Menghitung yang Tak Terhitung
Sering kali kita mengeluh hanya karena satu keinginan kita belum dikabulkan, sementara kita melupakan jutaan fasilitas gratis yang Allah berikan setiap detik.
Kita lahir dengan dua paru-paru yang mengembang dan mengempis tanpa perlu kita perintah. Jantung kita berdetak sekitar 100.000 kali dalam sehari tanpa pernah meminta upah. Mata kita mampu membedakan hingga 10 juta warna, sebuah resolusi mahakarya yang tak tertandingi oleh kamera tercanggih mana pun di dunia. Dan semua itu diberikan secara cuma-cuma.
Syaikh As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman mengingatkan bahwa sifat dasar manusia sering kali kufur terhadap nikmat yang kasatmata. Padahal, andai satu saja nikmat itu dicabut—misalnya kemampuan bernapas dengan lega—maka seluruh harta yang kita miliki tidak akan cukup untuk membelinya kembali.
Bayangkan, di seluruh belahan bumi ini, ada jutaan orang yang tidur tadi malam dan tidak pernah bangun lagi keesokan harinya. Sementara kita, pagi ini Allah bangunkan kembali, Allah beri waktu, dan Allah beri hembusan napas baru. Namun, apakah kalimat pertama yang keluar dari lisan kita adalah pujian kepada-Nya? Ataukah kita langsung mengeluh tentang beban hidup?
Sebuah Renungan Pengingat
Mari kita merenungi perkataan seorang ulama salaf, Fudhail bin Iyadh rahimahullah, yang pernah memberikan nasihat indah tentang syukur:
عَلَيْكُمْ بِالْمُلَازَمَةِ لِلشُّكْرِ عَلَى النِّعَمِ، فَقَلَّ نِعْمَةٌ زَالَتْ عَنْ قَوْمٍ فَعَادَتْ إِلَيْهِمْ
“Hendaknya kalian senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Karena jarang sekali suatu nikmat yang telah hilang dari suatu kaum, akan kembali lagi kepada mereka.” (Al-Jami’ li Ahkamill Qur’an, Al-Qurthubi).
Kisah kaum jin di Lembah Nakhlah 1400 tahun lalu bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur. Itu adalah cermin besar yang diletakkan di hadapan wajah kita. Jika makhluk yang dunianya terpisah dari kita saja bisa begitu bergetar dan responsif mengakui nikmat Allah, lantas bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai hamba yang paling mulia?
Sebelum hari ini berakhir, mari letakkan tangan kita di dada, rasakan detak jantung yang masih berdenyut, dan ucapkanlah dengan penuh kejujuran hati:
لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ ، فَلَكَ الْحَمْدُ
“Tidak ada satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Maka bagi-Mu segala puji.”
Daftar Referensi:
- Al-Qur’an al-Karim (Surah Ar-Rahman).
- HR. At-Tirmidzi: Sunan at-Tirmidzi, Kitab Tafsir al-Qur’an an-Nabi ﷺ, Bab Wa min Surah ar-Rahman, no. 3291. Hadits ini dinilai Hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.
- Tafsir Al-Qurthubi: Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, karya Imam Syamsuddin al-Qurthubi (Wafat 671 H), Penerbit Darul Kutub al-Mishriyah, Kairo.
- Tafsir Ibnu Katsir: Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Imam Ismail bin Umar bin Katsir (Wafat 774 H), Penerbit Dar Thayyibah.
- Tafsir At-Tahrir wat-Tanwir: Karya Syekh Muhammad al-Thahir bin Asyur (Wafat 1393 H), Penerbit Dar Tunis, Tunisia.
- Tafsir As-Sa’di: Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (Wafat 1376 H), Penerbit Muassasatur Risalah.
- Inspired by Tim @barengquran : Makhluk yang Selama Ini Kamu Takuti, Ternyata Lebih Pandai Bersyukur dari Kamu! (2026).
*Penulis merupakan Pelaksana Kehumasan/Penata Layanan Operasional pada Subbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka


Komentar