Berita Daerah MAN

Bukan Sekadar Bersalaman, MAN 3 Majalengka Tanamkan Karakter dan Perkuat Ikatan Batin Guru-Siswa melalui Tradisi Musyafahah

Jatiwangi (KEMENAG) — Membangun generasi berakhlak mulia tidak cukup hanya melalui pembelajaran di ruang kelas. Keteladanan, sentuhan nilai-nilai keagamaan, dan kedekatan emosional antara guru dan peserta didik menjadi bagian penting dalam membentuk karakter generasi muda. Semangat inilah yang terus dihidupkan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka melalui pembiasaan tradisi musyafahah atau bersalam-salaman antara guru dan siswa seusai salat Dzuhur berjamaah di Masjid Al-Azfar MAN 3 Majalengka, Kamis (15/10/2026).

Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, tradisi sederhana ini menghadirkan pesan mendalam bahwa pendidikan bukan semata-mata tentang transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga proses menanamkan adab, menumbuhkan rasa hormat, dan membangun kedekatan hati antara pendidik dan peserta didik.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan salat Dzuhur berjamaah yang diikuti oleh warga madrasah, mulai dari kepala madrasah, dewan guru, tenaga kependidikan, hingga para siswa. Setelah salat dan doa bersama, para siswa berbaris dengan tertib untuk bersalaman dengan para guru yang telah menunggu. Momen tersebut berlangsung dalam suasana hangat, penuh keakraban, dan sarat dengan nilai-nilai keteladanan.

Bagi MAN 3 Majalengka, musyafahah bukan sekadar rutinitas setelah ibadah. Tradisi ini menjadi salah satu ikhtiar nyata dalam membangun budaya madrasah yang religius, humanis, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Melalui interaksi sederhana tersebut, peserta didik dibiasakan untuk menghormati guru, menjaga sopan santun, serta menumbuhkan sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.

Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Azfar MAN 3 Majalengka, Nunung Nuraisyah, S.Pd., menjelaskan bahwa pembiasaan musyafahah memiliki makna penting dalam mempererat hubungan kekeluargaan di lingkungan madrasah sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah kepada para siswa.

Kemenag Majalengka Dorong Penyuluh Agama Aktif dan Percaya Diri dalam Ajang Olahraga dan Seni

“Tradisi musyafahah setelah salat berjamaah ini kami ikhtiarkan untuk membangun suasana keakraban dan kekeluargaan yang utuh antara guru dan murid. Ketika rasa saling menghormati dan menyayangi tumbuh, iklim belajar mengajar di madrasah pun akan menjadi lebih sejuk, nyaman, dan berkeberkahan,” ujar Nunung di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, pembiasaan nilai-nilai keagamaan perlu dihadirkan secara konsisten agar tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dipelajari di kelas, tetapi benar-benar tumbuh menjadi sikap dan perilaku. Dengan demikian, nilai penghormatan kepada guru, kesantunan dalam berinteraksi, serta kebiasaan menjaga hubungan baik dapat menjadi bagian dari kepribadian peserta didik.

Lebih dari itu, tradisi musyafahah menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan dimensi ibadah dengan pendidikan karakter. Masjid tidak hanya menjadi tempat menunaikan kewajiban spiritual, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran nilai, tempat peserta didik menyaksikan keteladanan guru sekaligus mempraktikkan adab dalam kehidupan nyata.

Pembiasaan ini juga diharapkan mampu menciptakan iklim pendidikan yang lebih harmonis. Kedekatan antara guru dan siswa dapat menjadi salah satu fondasi bagi tumbuhnya komunikasi yang baik, rasa saling percaya, dan lingkungan belajar yang kondusif, tanpa menghilangkan batas-batas penghormatan serta tanggung jawab dalam hubungan pendidik dan peserta didik.

Melalui konsistensi pelaksanaan kegiatan tersebut, MAN 3 Majalengka terus mengupayakan agar nilai-nilai religius tidak hanya tampak dalam kegiatan seremonial, tetapi hadir sebagai budaya yang mewarnai aktivitas harian warga madrasah. Pendidikan agama diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi berlanjut pada pembentukan akhlak yang tercermin dalam perilaku nyata.

Awali Hari dengan Al-Qur’an, Saya Bangga Bisa Berkontribusi Bentuk Generasi Qur’ani di MTsN 13 Majalengka

Pada akhirnya, kemajuan sebuah madrasah tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari keberhasilannya menumbuhkan generasi yang berilmu, santun, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Dari Masjid Al-Azfar, tradisi musyafahah menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dijaga dengan ketulusan dan dilakukan secara berkelanjutan.

Dengan semangat tersebut, MAN 3 Majalengka terus berikhtiar memperkuat budaya religius dan membangun lingkungan pendidikan yang menempatkan ilmu, adab, serta akhlak mulia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam proses mencetak generasi masa depan.

Kontributor : Firman Saefatullah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *