Jatiwangi (KEMENAG) — Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober, seluruh warga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka kompak mengenakan busana batik di lingkungan madrasah pada Jumat (2/10/2026). Peringatan ini menjadi momentum strategis bagi lembaga pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan serta memperkuat identitas budaya peserta didik sejak dini.
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, hingga tenaga kependidikan tersebut diawali dengan apel pagi bersama. Meski mengenakan ragam busana batik dari bermacam daerah di Indonesia, kegiatan belajar mengajar di kelas tetap berlangsung seperti biasa dengan suasana kental nuansa budaya. Penggunaan batik ini dijadikan media pembelajaran kontekstual agar peserta didik lebih dekat dan bangga terhadap warisan budaya nusantara.
Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar rutinitas berpakaian semata, melainkan sarana edukasi moral dan sejarah. Ia menyampaikan bahwa peringatan Hari Batik Nasional menjadi kesempatan berharga untuk mengenalkan sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa. Pihaknya berharap para siswa dapat memahami secara mendalam bahwa upaya menjaga kelestarian budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari menjaga identitas Indonesia.
Lebih lanjut, Ela Nurlaela menjelaskan bahwa keanekaragaman motif batik yang dipakai warga madrasah mencerminkan kekayaan budaya yang tumbuh di berbagai pelosok daerah. Menurut pandangannya, pendekatan pengenalan budaya kepada peserta didik memang sudah selayaknya dilakukan melalui kegiatan nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Langkah MAN 3 Majalengka ini sekaligus menegaskan komitmen madrasah dalam menghadirkan iklim pendidikan yang seimbang. Pendidikan tidak hanya difokuskan pada penguasaan akademik semata, tetapi juga memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk memahami kearifan lokal dan tradisi leluhur.
Sebagaimana diketahui, Hari Batik Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 guna memperingati pengakuan resmi batik Indonesia oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009. Melalui momentum ini, MAN 3 Majalengka membuktikan komitmennya dalam mengedukasi generasi muda bahwa batik bukan sekadar helai kain biasa, melainkan cerminan perjalanan sejarah dan simbol keberadaan bangsa Indonesia.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar