Berita Daerah KUA

Pesan Menohok Penghulu KUA Banjaran untuk Gen Z: “Jangan Bawa Luka Lama ke Rumah Baru”

Banjaran (KEMENAG) – Pernikahan bukan sekadar akhir dari perjalanan mencari pasangan, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk belajar menjadi pasangan yang saling memahami, menghargai, dan menguatkan. Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, Sofwan Farohi, S.H.I., M.Pd., saat memimpin dan mencatat prosesi pernikahan Rizky Hegar Gumilar dan Windy Srimukti, Ahad (4/10/2026).

Prosesi pernikahan tersebut berlangsung di Blok Legok RT 007 RW 004, Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka. Pada kesempatan tersebut, Sofwan Farohi tidak hanya menjalankan tugas pelayanan pencatatan pernikahan, tetapi juga menyampaikan khutbah serta nasihat pernikahan yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan Generasi Milenial dan Generasi Z.

Mengusung pesan utama “Swipe Berhenti, Komitmen Dimulai”, Sofwan menekankan bahwa kehidupan rumah tangga pasca-akad nikah membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta. Pernikahan memerlukan komitmen, kedewasaan emosional, komunikasi yang sehat, serta kesediaan untuk terus bertumbuh bersama.

“Ananda berdua, hari ini bukan lagi waktunya sekadar mencari pasangan. Hari ini waktunya belajar menjadi pasangan,” ujar Sofwan dalam nasihatnya.

Ia menegaskan bahwa pengalaman masa lalu seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik, bukan justru menjadi beban yang mengganggu keharmonisan rumah tangga.

Supervisi Tiga KUA, Kasi Bimas Islam Majalengka Tekankan Profesionalisme dan Kepatuhan Regulasi

“Jangan bawa luka lama ke rumah yang baru. Masa lalu cukup menjadi guru, jangan dijadikan penghuni rumah tangga,” tuturnya.

Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap individu memasuki jenjang pernikahan dengan pengalaman, karakter, dan latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu, pasangan suami istri perlu belajar saling menerima secara realistis tanpa terjebak dalam ekspektasi kesempurnaan.

Sofwan, yang juga penulis buku Swipe ke Sakinah: Panduan Nikah Gen Milenial dan Z dari Pra-Akad sampai After Marriage Life, mengimbau pentingnya mengubah orientasi diri, dari semula menuntut pasangan menjadi pribadi yang mampu memberikan rasa aman, penghargaan, dan kasih sayang.

“Jangan hanya bertanya, apa yang bisa pasangan saya berikan? Namun biasakan bertanya, apa yang bisa saya berikan agar pasangan saya merasa aman, dihargai, dan dicintai?” ungkapnya.

Komunikasi Sehat sebagai Kunci Mengelola Konflik

Kemenag Majalengka Himbau ASN Madrasah Tunaikan Zakat Profesi

Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, perbedaan pendapat dan konflik merupakan dinamika yang sulit dihindari. Namun, tata cara pasangan dalam mengelola konflik akan sangat menentukan kualitas hubungan mereka.

Sofwan mengingatkan agar persoalan rumah tangga tidak diselesaikan melalui sindiran di media sosial atau diumbar pada status WhatsApp. Setiap permasalahan hendaknya dibicarakan secara terbuka, tenang, dan saling menghormati.

“Jika ada masalah, jangan selesaikan di status WhatsApp. Bicarakan berdua. Kalau sedang marah, jangan buru-buru mengambil keputusan. Emosi itu seperti sinyal internet, kadang naik, kadang turun. Jangan membuat keputusan permanen dengan perasaan yang sementara,” terangnya dengan gaya bahasa khas anak muda.

Ia juga menekankan bahwa dalam rumah tangga tidak ada ajang untuk membuktikan siapa yang paling benar atau siapa yang harus menang. Suami dan istri merupakan mitra yang memikul tanggung jawab bersama dalam menjaga keutuhan keluarga.

“Jika suami menang tetapi istrinya terluka, rumah tangga sebenarnya tidak menang. Yang harus menang adalah rumah tangga,” tegas Sofwan.

Buka Perkemahan, Kepala Kankemenag Majalengka: Kepramukaan Memiliki Peran Penting Dalam Membentuk Kepribadian

Rumah Tangga sebagai Tempat Pulang dan Bertumbuh

Lebih lanjut, Sofwan mengaitkan nasihat pernikahan tersebut dengan tujuan luhur perkawinan sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ar-Rum ayat 21:

لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Litaskunū ilaihā.

Artinya: “Agar kamu merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21).

Ayat tersebut menegaskan bahwa pernikahan bertujuan untuk menghadirkan ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat dalam kehidupan berpasangan. Sofwan mengajak kedua mempelai menjadikan rumah tangga sebagai safe place—ruang aman untuk pulang, bercerita, saling memaafkan, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama.

Di tengah maraknya tren media sosial yang kerap menampilkan potret kehidupan ideal, pasangan suami istri diingatkan agar tidak hanya mengejar pencitraan kebahagiaan di hadapan publik.

“Jangan hanya membangun rumah tangga yang terlihat bahagia di media sosial. Bangunlah rumah tangga yang benar-benar tenang ketika tidak ada kamera,” imbaunya.

Melangkah dari Akad Menuju Komitmen Seumur Hidup

Menutup nasihatnya, Sofwan mendoakan agar pernikahan Rizky Hegar Gumilar dan Windy Srimukti senantiasa dilimpahi keberkahan, ketenteraman, cinta, dan kasih sayang.

“Semoga Allah menjadikan pernikahan ini sakinah, mawaddah, wa rahmah; menjadikan pengalaman masa lalu sebagai bekal kedewasaan; dan menjadikan kehidupan baru ini sebagai jalan kalian semakin dekat kepada Allah,” panjatnya.

Ia kemudian memungkas nasihat dengan doa keberkahan bagi kedua mempelai:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Bārakallāhu laka wa bāraka ‘alaika wa jama‘a bainakumā fī khair.

Artinya: “Semoga Allah memberkahimu, melimpahkan keberkahan atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

Langkah edukatif ini menjadi wujud komitmen KUA Kecamatan Banjaran untuk terus menghadirkan pelayanan keagamaan yang tidak terbatas pada aspek administratif belaka, melainkan juga memberikan penguatan nilai-nilai keluarga secara berkelanjutan di tengah masyarakat. Sebab, akad nikah mungkin berlangsung dalam satu hari, tetapi komitmen menjaga keutuhan keluarga yang sakinah adalah perjalanan seumur hidup.

Kontributor: Sofwan Farohi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *