Malausma (KEMENAG) — Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Malausma memberikan bimbingan kepada remaja usia sekolah di Madrasah Aliyah Nurrakhman Howara Hadad Werasari, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, Jumat (2/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di kampus madrasah tersebut mengangkat tema tentang tujuan penciptaan manusia dan pentingnya menjadikan ibadah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bimbingan disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Malausma, Alif Sinta, S.Kom.I dan Faridah, S.Ag. Para peserta diajak memahami bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari tujuan utama penciptaannya, yakni beribadah kepada Allah Swt.
Dalam penyampaiannya, Alif Sinta mengangkat kandungan Al-Qur’an Surah Az-Zariyat ayat 56:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Ayat tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai makna ibadah. Menurutnya, ibadah tidak hanya dipahami sebatas kegiatan ritual seperti salat, puasa, atau membaca Al-Qur’an, tetapi juga mencakup berbagai aktivitas kehidupan yang dilakukan dengan niat karena Allah Swt. dan sesuai dengan tuntunan agama.
“Ibadah itu ada yang bersifat mahdah dan ada yang ghair mahdah. Ibadah mahdah merupakan ibadah yang tata cara pelaksanaannya telah ditentukan oleh syariat, seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Sementara ibadah ghair mahdah mencakup berbagai aktivitas kebaikan dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan dengan niat karena Allah dan tidak bertentangan dengan syariat,” jelas Alif.
Ia kemudian memberikan contoh bahwa belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, membantu orang tua, menolong sesama, menjaga kebersihan, serta memberikan manfaat kepada orang lain dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Menurut Alif, pemahaman tersebut penting ditanamkan kepada remaja agar mereka tidak memandang agama hanya sebatas hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai agama dalam hubungan sosial.
“Kita sebagai manusia harus menjaga hablum minallah dan hablum minannas. Ada hubungan vertikal kita dengan Allah dan ada hubungan horizontal kita dengan sesama manusia. Keduanya harus berjalan beriringan. Kesalehan bukan hanya terlihat dari rajinnya kita beribadah kepada Allah, tetapi juga dari bagaimana kita bersikap, menghormati, membantu, dan memberikan manfaat kepada orang lain,” ungkapnya.
Sementara itu, Faridah, S.Ag. menekankan bahwa masa remaja merupakan fase penting untuk membangun kebiasaan baik. Menurutnya, pemahaman tentang ibadah perlu diwujudkan dalam perilaku nyata, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
“Jangan sampai kita hanya memahami ibadah sebagai sesuatu yang dilakukan di atas sajadah. Ketika kita menghormati orang tua, menjaga lisan, tidak menyakiti teman, jujur dalam belajar, membantu orang lain, dan menjaga amanah, semua itu juga menjadi bagian dari pengamalan nilai-nilai agama,” tutur Faridah.
Ia mengajak para siswa untuk membangun keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama. Sebab, kehidupan seorang muslim tidak hanya berbicara tentang hubungan dengan Sang Pencipta, tetapi juga tentang bagaimana kehadirannya membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar.
“Menjadi anak muda yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak kita melakukan ibadah ritual, tetapi juga tentang seberapa besar kebaikan yang bisa kita hadirkan untuk orang lain. Hablum minallah harus kuat, tetapi hablum minannas juga harus dijaga,” tambahnya.
Melalui kegiatan bimbingan tersebut, para penyuluh berharap para siswa MA Nurrakhman Howara Hadad tidak hanya memahami konsep ibadah secara teori, tetapi mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, ibadah tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dengan Allah Swt., tetapi juga melahirkan kepedulian sosial, akhlak yang baik, serta sikap yang memberikan manfaat bagi sesama.
Kontributor: Alif Sinta


Komentar