Jatitujuh (KEMENAG) — Kondisi kekeringan yang terjadi di tengah aktivitas masyarakat tidak hanya menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air, tetapi juga dimanfaatkan sebagai momentum pembelajaran keagamaan bagi siswa MTsN 7 Majalengka. Pada Rabu, 16 September 2026, siswa mendapatkan pembelajaran praktik tata cara bersuci dalam kondisi darurat, khususnya wudhu dengan penggunaan air secara terbatas.
Kegiatan tersebut dibimbing oleh Ahmad Syukron, S.Pd.I. sebagai bagian dari pembelajaran fikih. Para siswa diberikan pemahaman bahwa keterbatasan air tidak serta-merta menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban bersuci. Dalam kondisi tertentu, penggunaan air dapat dilakukan secara terbatas dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.
Dalam praktiknya, siswa diarahkan untuk memahami anggota wudhu yang termasuk fardu, yaitu membasuh wajah, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, serta membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Pembelajaran tersebut menekankan pentingnya menggunakan air secara bijak ketika persediaannya terbatas.
Guru pembimbing, Ahmad Syukron, S.Pd.I., mengatakan bahwa kondisi kekeringan dapat dijadikan pengalaman belajar yang kontekstual agar siswa tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mengetahui penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kondisi kekeringan ini kami jadikan momentum pembelajaran agar siswa memahami bahwa ibadah tetap dapat dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi yang ada. Mereka belajar bagaimana menggunakan air secara hemat dengan tetap memenuhi rukun atau fardu wudhu sesuai ketentuan syariat,” ungkap Ahmad Syukron.
Menurutnya, pembelajaran tersebut juga bertujuan menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Siswa diajak memahami bahwa air merupakan sumber daya yang harus digunakan secara bijaksana, termasuk ketika digunakan untuk keperluan ibadah.
“Yang kami tekankan bukan hanya praktik membasuh anggota wudhu, tetapi juga kesadaran bahwa Islam mengajarkan kemudahan dan tidak membebani umatnya di luar kemampuan. Ketika menghadapi kondisi darurat, siswa harus mengetahui ketentuan bersuci yang tepat sesuai syariat,” tambahnya.
Kegiatan pembelajaran berlangsung dengan pendekatan praktik. Siswa mengamati penjelasan guru, kemudian mempraktikkan tata cara wudhu dengan penggunaan air secara terbatas. Guru juga memberikan penjelasan mengenai kondisi ketika air benar-benar tidak tersedia atau tidak memungkinkan digunakan, sehingga siswa memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai ketentuan bersuci dalam keadaan darurat.
Pembelajaran kontekstual tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa sekaligus memperkuat pemahaman mereka terhadap materi fikih. Kondisi kekeringan yang dihadapi masyarakat pun menjadi sarana edukasi untuk membangun karakter siswa agar lebih peduli terhadap lingkungan, hemat dalam menggunakan air, dan mampu menerapkan ajaran agama dalam berbagai situasi.
Dengan demikian, keterbatasan air tidak hanya dipandang sebagai persoalan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan keagamaan dengan realitas kehidupan. MTsN 7 Majalengka terus mendorong pembelajaran yang dekat dengan pengalaman siswa sehingga nilai-nilai agama dapat dipahami, dipraktikkan, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kontributor: Suratman


Komentar